Selama 20 Tahun sebagai sutradara film,
karya Teguh Karya menghasilkan 54 Piala Citra


 

1970 – Wajah Seorang Laki-Laki

wajahKehadirannya di perfilman memberikan warna baru bagi film Indonesia. Sebagai teaterawan yang menguasai dramaturgi, teknik penyutradaraan dalam filmnya membuat setiap adegan tampak hidup dan dinamis serta memiliki dimensi yang lebih dalam. Wajah Seorang Laki-Laki, memiliki nilai teknik & artistik tinggi, tetapi masyarakat belum bisa menikmatinya. Dipuji kritisi tapi kurang sukses di pemasaran.


1973 – Cinta Pertama
(5 Piala Citra)

cinta1Belajar dari film pertamanya yang tidak dekat dengan masyarakat, maka melalui film keduanya Teguh secara sadar mengemas filmnya dalam bentuk hiburan sehat yang memiliki mutu teknik dan artistik yang baik. Cinta Pertama menjadi film box office dan telah menempatkan dirinya sebagai sutradara yang mampu menghibur tapi sekaligus berprestasi sebagai sutradara terbaik.


1974 – Ranjang Pengantin
(5 Piala Citra)

ranjangMelalui film ini Teguh Karya memantapkan dirinya sebagai sutradara langganan Piala Citra dan mampu mencetak pemain dan pekerja kreatif terbaik Indonesia. Kemenangan Teguh di Festival Film Indonesia, telah membentuk kepercayaan bahwa film-film Indonesia yang baik dihasilkan oleh sutradara film yang menguasai dramaturgi. Kelompok Teater Populer, sanggar kreatifnya menjadi “pabrik” sumber daya manusia perfilman Indonesia.


1975 – Kawin Lari
(3 Piala Citra)

kawinNama Teguh Karya selalu dihubungkan dengan nama Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Tuti Indra Malaon, Niniek L. Karim, Erros Djarot dan Idris Sardi yang selalu mendominasi Festival Film Indonesia. Nama Teguh Karya dan kelompoknya telah menjadi simbol dari kreativitas dan prestasi yang dicapai dengan kerja keras serta kecintaan pada profesinya.


1976 – Perkawinan Dalam Semusim

perkawinanSebagai pribadi seorang seniman memiliki kejenuhan dalam rutinitas produksi. Semua keputusan diambil secara gamang. Perkawinan Dalam Semusim mengalami berkali-kali perubahan judul. Pada awalnya berjudul Serigala-Serigala. Kemudian diganti menjadi Manusia Serigala. Pada akhirnya film ini berjudul Perkawinan Dalam Semusim. Film ini menampilkan adegan-adegan yang berakhir fatal dan sia-sia, sebagai puncak dari kesalah pahaman.


1977 – Badai Pasti Berlalu
(3 Piala Citra)

badaiKegamangan Teguh tiba-tiba terhapus dengan tantangan baru, di mana film-film Indonesia mulai menjual sex dan kekerasan. Untuk mengimbangi hal tersebut, Teguh mengambil novel best seller, Badai Pasti Berlalu sebagai dasar cerita filmnya. Keterampilan teknik yang tinggi, kepekaan pada masalah artistik dan kepiawaian dalam membuat adegan, telah mengantar Badai Pasti Berlalu menjadi box office dan mengungguli film hiburan yang menjual sex dan kekerasan.


1978 – November 1828
(8 Piala Citra)

novemberUpaya melawan arus film Indonesia yang menjual sex dan kekerasan sangat jauh dari nilai budaya bangsa, Teguh di daulat untuk membuat sebuah film yang dapat memberikan gambaran tentang kepahlawanan yang memiliki kesadaran berani berkorban dalam memenangkan kepentingan bangsa. Film November 1828, merupakan film spektakuler pertama tentang perjuangan kebangsaan di jalam pra kemerdekaan. Film ini sukses secara mutu dan komersial.


1980 – Usia 18
(3 Piala Citra)

usia18Setelah sukses dengan November 1828, Teguh mencari bentuk lain dari perjuangan di alam kemerdekaan. Problem generasi muda menjadi pilihan. Melalui Usia 18, Teguh, menampilkan bentuk lain dari perjuangan anak muda yang berjuang melawan tantangan masa puber yang penuh jebakan ke arah hidup yang buruk. Usia remaja adalah usia yang penuh tantangan. Sekali salah melangkah, masa depan akan hancur berantakan.


1982 – Di Balik Kelambu
(6 Piala Citra)

kelambuPada periode ini, Teguh sangat dekat dengan problem masyarakat yang ada di sekitarnya. Gaya penyutradaraannya terasa lebih sederhana dan menghindari pendekatan romantis. Konflik ceritanya berjalan realistis karena digarap secara pendekatan semi dokumenter. Pada periode ini, para pemain mendapat porsi lebih luas dalam berkreasi. Berbeda dengan gaya penyutradaraan tahun tujuh-puluhan yang cenderung membentuk pemain secara ketata dan jika perlu menirukan gesture dan ekspresi yang dicontohkan. Teguh nampak lebih matang dalam penyutradaraan.


1984 – Secangkir Kopi Pahit

kopiSeperti halnya film Perkawinan Dalam Semusim, Teguh kembali jenuh dengan produksi yang beruntun dan terasa rutin. Kegelisahan dan kegamangan Teguh dapat terbaca dari pemilihan judul filmnya yang terkesan menampilkan kegetiran. Dalam film ini, konflik adegannya terasa lemah motivasinya dan yang terasa hanyalah kemarahan emosional yang tanpa sebab. Secangkir Kopi Pahit ternyata menggambarkan kegetiran dalam kerja rutin.


1985 – Doea Tanda Mata
(4 Piala Citra)

doeatandaKegetiran dalam Perkawinan Dalam Semusim ditebus dalam Badai Pasti Berlalu. Begitu pula kegetiran dalam Secangkir Kopi Pahit. Teguh mengobatinya dengan merancang sebuah film spektakuler kedua setelah November 1828. Rupanya tema besar tentang perjuangan bangsa, mampu menghapus suasana rutin yang membosankan. Doea Tanda Mata tampil sebagai film yang mampu menjadi Best Film dalam Festival Film Asia Pacific.


1986 – Ibunda
(9 Piala Citra)

ibundaMelanjutkan semangat perjuangan yang mengimbas dari film Doea Tanda Mata, Teguh memilih cerita tentang seorang ibu yang memiliki banyak anak yang berbeda watak dan keinginannya, tetapi mampu diatasi berdasarkan cinta kasih yang timbul dari rasa memiliki. Tokoh Ibunda diibaratkan sebagai ibu pertiwi yang memiliki banyak masalah karena berbagai perbedaan suku bangsa dan adat istiadat, tapi segalanya tetap bersatu dan mengatasi masalahnya dengan cinta kasih karena menyadari bahwa pada dasarnya kita sebangsa dan setanah air.


1989 – Pacar Ketinggalan Kereta
(8 Piala Citra)

pacarDalam kondisi film Indonesia yang mulai sesak napas menghadapi politik udara terbuka dari pemerintah. Tekanan politik pasar bebas sebagai paket sistem global yang ditawarkan oleh negara maju, memungkinkan importir film mulai bebas bergerak karena quota import mulai longgar. Bersaing dengan film import yang diproduksi dengan modal raksasa, film Indonesia kurang daya dan akhirnya secara drastis jumlah produksi menurun tajam. Pacar Ketinggalan Kereta menjadi film terakhir dalam perjalanan panjang karir Teguh Karya dan menjadi salah satu film Indonesia yang masih dipercaya masyarakat.

 

↑ BACK TO THE TOP ↑